Seragam Berpalang Merah

Hidup di masa konfik sangat menyeramkan. Sepatah kata bisa saja berkhir di ujung senjata, setapak langkah meninggalkan rumah bisa memicu masalah. Rasa takut menyelimuti seluruh pori-pori tubuh. Sulit rasanya membayangkan kembali peristiwa 18 tahun silam. Di saat hampir semua orang bungkam akan ketidakwajaran hidup akibat konflik yang berkepanjangan. Pelanggaran akan Hak Asasi Manusia (HAM) dialami oleh masyarakat yang menjadi zona hitam antara tahun 1989-1998. Saat dimana Aceh dinyatakan sebagai Daerah Operasi Militer (DOM).

Satu-satunya yang ditakuti masyarakat kala itu ialah orang yang mengenakan baju seragam. Apalagi kalau bukan seragam loreng dengan warna hijau, coklat, coklat tua dan hitam, terlebih yang menggunakan senjata api. Suara kontak senjata terdengar setelah adanya segerombolan orang yang berseragam loreng pergi menuju gunung. Selang beberapa jam, atau hari disusul oleh sekelompok orang yang menggunakan rompi dengan lambang bunga melati dan palang merah di bagian belakang bajunya. Ditemani oleh beberapa warga kampung terdekat, mereka datang mencari para korban yang meninggal. Mereka membawa pulang para korban tersebut untuk dikebumikan secara layak. Sebelumnya mereka mengidentifikasi supaya para korban tersebut bisa dikenali oleh keluarganya. 

Para pengguna seragam berpalang merah tersebut, sering kali datang setelah terjadinya kontak senjata. Terkadang mereka juga ikut dengan orang-orang yang menggunakan seragam berloreng. Di barak pengunsian keluarga korban konflik, mereka juga hadir untuk mendirikan tenda pengunsian, membagikan makanan ataupun sekedar mendengarkan keluh kesah para penghunyi barak pengunsiaan. Aku sering memperhatikan orang-orang yang mengenakan seragam berpalang merah tersebut. Di bawah lambang tersebut terdapat tiga huruf kapital yang bertulisakan PMI. Lambang tersebut juga Aku temukan di mobil bewarna putih mirip seperti mobil ambulan. Palang bewarna merah seperti lambang salip tersebut, juga ada di mobil jeep dengan tulisan ICRC disampingnya. Mobil itu sering melewati jalan raya depan rumah ku diikuti oleh mobil-mobil truk besar yang ditumpangi oleh para anggota seragam berloreng.

Perhatianku bukan tertuju kepada mobil truk besar tersebut, tapi mobil putih yang berada di depannya. Aku bertanya makna palang merah yang tertulis dimobil dan seragam berompi kepada abangku, yang saat itu sedang duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Dia menyebutkan lambang itu ialah sebagai lambang Palang Merah Indonesia. Mereka adalah petugas kemanusiaan yang menangani korban konflik.

Aku kurang mengerti tentang penjelasan abangku , maklumlah saat itu aku masih duduk di kelas 4 Madrasah Ibtidayah Negri (MIN). Aku dan teman-temanku sering melihat orang-orang yang menggunakan seragam berompi dengan gambar palang merah di belakangnya. Kami mengira orang tersebut ialah non muslim karena lambangnya mirip lambang salib pada agama kristen, tapi kami heran kenapa orang-orang tersebut sering berada di barak pengunsian bahkan menangani korban konflik.

Saat kejadian tsunami Aceh 2004, orang-orang yang menggunakan seragam berpalang merah semakin banyak. Mereka terlibat dalam evakuasi korban meninggal, dan memberi bantuan kepada korban yang selamat. Mobil yang belambangkan palang merah pun semakin banyak berdatangan, mereka membawa berbagai keperluan seperti makanan, selimut, pakaian dan sebagainya untuk dibagikan kepada pengunsi. Aku semakin sering melihat lambang-lambang berpalang merah di tempat-tempat pengunsian. Aku mulai sedikit mengerti tentang makna lambang tersebut ialah sebagai orang yang memberi bantuan.

Di tahun 2007, tepatnya saat aku duduk di bangku Madrasah Aliyah Negri (MAN), aku mengikuti sebuah organisasi yang bernama Palang Merah Remaja (PMR). Lambangnya juga sama seperti yang aku lihat semasa konflik dan bencana. Rasa penasaranku terkait lambang tersebut semakin dalam, ditambah lagi aku mendapatkan ilmu tentang kepalangmerahan. Lambang yang selama ini aku lihat di baju seragam berompi, dan dimobil-mobil putih tersebut adalah sebuah lambang organisasi perhimpunan nasional di Indonesia yang bergerak di bidang sosial kemanusiaan. Berdasarkan 7 prinsip gerakan internasional palang merah dan bulan sabit merah, mereka bekerja untuk melayani masyarakat.


Anggota Forpis Aceh angkatan I tahun 2008 (Photo dokumentasi Yelli Sustarina, www.klikforpis.com) 

Di organisasi ini aku mengenal tugas mereka sebagai penanggulangan bencana dan konflik. Lambang yang menjadi rasa penasaranku itu ternyata berfungsi sebagai tanda pelindung dan pengenal. Lambang ini digunakan untuk melindungi petugas palang merah supaya dilindungi dan tidak diserang oleh pihak yang berperang, dan hanya boleh di pakai pada saat situasi perang, Dinas Kesehatan Angkatan Perang, dan Perhimpunan nasional seperti PMI atas izin militer. Pantaslah mereka ada dimana-mana, saat situasi genting dan darurat petugas PMI yang menjadi terdepan hingga sampai ke pelosok desa. Tidak memihak pada siapapun, mereka menolong manusia yang membutuhkan pertolongan karena merekalah yang memanusiakan manusia. 

Aku mulai mengenal dunia kepalangmerahan lewat orginasasi PMR. Jiwa relawanku tumbuh untuk membantu siapa pun yang membutuhkan pertolongan. Seperti yang tercantum di 7 prinsip gerakan internasional palang merah dan bulan sabit merah yaitu; kemanusiaan, kesamaan, kesukarelaan, kemandirian, kesatuan, kenetralan, kesamaan. Prinsip itu menjadi dasar dan landasan untuk membantu sesama. Disini aku mendapatkan ilmu terkait kepalangmerahan, kepemimpinan, kesehatan reproduksi remaja, donor darah, sanitasi lingkunag, kesiapsiagaan bencana dan pertolongan pertama. Dengan bangga aku mengenakan seragam berpalang merah itu untuk menjadi pekerja kemanusiaan yang siap siaga dimanapun dan untuk siapapun.


Petugas PMI sedang memberikan pertolongan pertama kepada salah satu anggota pemain sepak bola.Photo dokumentasi Teuku Saiful Ahmad (Anggota KSR Unit PMI Cabang Banda Aceh)
Saat ini PMI dikenal oleh semua kalangan, bukan hanya pada saat konflik atau bencana saja, tapi di berbagai situasi dan kondisi. Relawan PMI sangat dibutuhkan karena mereka bekerja untuk memberikan pelayanan sosial kemanusiaan untuk siapa saja dan dimana saja. Tanpa ada konflik dan bencana pun relawan PMI aktif melakukan kegiatan kemanusiaan, seperti mencari relawan donor darah, memberi pelayanan kesehatan, lingkungan hidup, respon dan tanggap bencana serta memberikan pertolongan pertama pada kecelakaan ataupun cedera. Para pengguna seragam berpalang merah kini dikenal sebagai relawan kemanusiaan yang berada dimana saja dan untuk siapa saja.



SHARE

About Yelli Sustarina

Blogger Aceh - Suka Traveling - PeramuKata di perawattraveler - Aktif di Komunitas I Love Songket Aceh dan Griya Schizofren Aceh - biru warna favoritnya - "membaca untuk tahu, menulis abadikan bacaanmu".

    Blogger Comment
    Facebook Comment

6 komentar:

  1. cerita sangat bagus, saya membacanya hampir keluar air mata mengembalikan ingatan ku kemasa lalu. Palang Merah Remaja yg membuka bibir kami utk tersenyum kala itu, mengajak kami yg masih SMP utk beraktivitas. saat itu saya mengenal Doktet Cilik.. Hehehehe... Terimakasih tulisan nya bagus..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih sudah berkunjung dan membaca artikel ini. Mohon maaf jika air matanya hampir keluar saat membaca tulisan ini, bukan maksud apa2, hanya merefleksi kembali kisah masa lalu.., :D

      Hapus
  2. good job, Relawan PMI disgala penjuru selalu berkibar.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yups.., kibarkan terus sayapmu ke penjuru nusantara dan dunia. Thanks ya.., buat photonya..., :)

      Hapus
  3. Keren Yell., PMI sampai kapanpun tetap dihati. Cerita yang sangat mengispirasi :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya dong.., disinilah tempat mulanya kita mengenal arti berbagi dan berjiwa kemanusiaan. Keren deh.., PMI membentuk kita menjadi pemuda yang berkarakter seperti ini. Ya nggak Bu Elvi.., hehehehe

      Hapus

setiap komentar anda_ kebahagiaan bagi saya_ silahkan tulis komentar anda dibawah ini !