Mimpi Para Sarjana Jantung Hati Rakyat Aceh

Wisuda lulusan pasca sarjana, profesi, sarjana dan program diploma periode Mei-Juli2014 
Dalam tulisan ini saya tidak perlu menjelaskan lagi tentang sejarah berdirinya Universitas pertama yang ada di Aceh, bagaimana progrmanya, apa saja fakultasnya dan siapa orang-orang intelek yang berada di dalamnya. Semua itu bisa diakses dengan membuka web Unsyiah. Di tulisan ini saya lebih tertarik membahas tentang para sarjananya. 

Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) yang dikatakan jantung hati rakyat Aceh, masih jauh dari apa yang diharapkan oleh masyarakatnya. Bukan dari segi bangunan fisik kampus, ataupun jumlah keilmuan program studi dan fakultas yang ada di dalamnya, tapi lulusan sarjana yang dihasilkan oleh perguruan tinggi negri tersebut.

Mengapa saya katakan demikian? Kerena banyaknya lulusan sarjana dari perguruan tinggi ini, belum juga dapat mengatasi masalah rakyat Aceh sepenuhnya. Seharusnya ribuan sarjana yang lulus mampu meningkatkan status kesehatan, mendongkrak perekonomian, dan menurunkan angka kemiskinan. 

Aceh dalam Angka Negatif 

Ilustrasi Aceh dalam angka
Kenyataannya, Aceh masih tinggi dalam angka negatif. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh tahun 2015, Gizi buruk balita Aceh tertinggi di Sumatera, dari 19,6% angka nasional, Aceh berada pada angka 26,3%. Begitu juga dengan angka kematian balita, yang nasional berada pada angka 43%, Aceh di angka 54%. 

Jumlah penderita Filariasis (kaki gajah) tahun 2008-2014, Aceh berada pada urutan pertama di Indonesia yaitu 10,051 jiwa. Gangguan mental emosional yang angka nasional berada pada 11,6%, Aceh 14,1%, sedangkan untuk masalah shizophrenia (gangguan alam perasaan), angka nasional berada pada 4,6% dan Aceh 18,5%. Belum lagi masalah anak penderita Thalasemia (kelainan darah) dan anak stunting (tubuh pendek), Aceh berada pada level pertama di skala nasional.

Pertumbuhan ekonomi di Aceh belum berkualitas, hal ini terlihat dari laju pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) propinsi tahun 2014, Aceh berada pada angka 1,65%, sedangkan rata-rata nasional berada pada angka 5,02%. Jika dilihat dari tingkat kemiskinan pada tahun 2014, Aceh berada pada angka 16,98% sedangkan angka nasional hanya 10,96%. Sangat di sayangkan propinsi yang kaya dengan sumber daya alam berupa mineral, batu bara dan migas, mengalami laju pertumbuhan ekonomi paling rendah. 

Jumlah pengangguran di Aceh mencapai 8,5%. Angka ini merupakan yang tertinggi di Sumatra (Serambi Indonesia, 19/05/2015). Setiap tahunnya Aceh menghasilkan ribuan para sarjana dari perguruan tinggi negri dan swasta. Tak ketinggalan pula dari universitas favorite, yang menjadi jantung hati rakyat Aceh ini yaitu Unsyiah. Dalam setahun saja, ada 4 kali wisudanya yang melahirkan ribuan sarjana di setiap kali wisudanya. 

Nah, kemana sekarang para sarjana tersebut? tidakkah mereka bisa mengatasi berbagai problema rakyat Aceh? Selama empat tahun para sarjana bergelimang dengan keilmuan yang telah dipilihnya sejak awal, tentu dapat memberikan kontribusi yang terbaik kepada rakyat Aceh setelah lulusnya. 

Akan tetapi, kenyataan hanya sebagian kecil para sarjana yang mempergunakan keilmuannya sebelum di setujui oleh pemerintah, yang katannya jika sudah Pegawai Negri Sipil (PNS) barulah bisa bekerja. Pemikiran seperti ini akan mengkerdilkan ilmu yang mereka miliki. Lihat saja peminat para pelamar calon PNS yang begitu banyak dan rela mengantri demi mendapatkan pekerjaan yang diinginkan. Padahal banyak hal yang dapat dilakukan selain menjadi seorang PNS.

Kegalauan para Sarjana

Setiap mahasiswa yang akan di wisuda, pastinya ada kebanggaan tersendiri di dalam hati. Karena empat tahun atau lebih mereka berjuang untuk mendapatkan gelar sarjana, akhirnya pada hari itu mereka akan disahkan menjadi seorang sarjana.
Map Ijazah Universitas Syiah Kuala 
Dilain sisi ada kegalauan di hati, mengingat apa yang akan di lakukan setelah kuliah. Cari kerja kah, atau buka usaha. Peluang kerja yang semakin sempit dan sulitnya mendapatkan pekerjaan menambah stres para sarjana yang baru lulus. Sehingga banyak yang menjadi pengangguran terdidik akibat dari minimnya skill dan ketidaksiapan dalam menghadapi dunia kerja.

Para sarajana lebih banyak yang mencari peluang kerja dari pada menciptakan lapangan pekerjaan sendiri. Karena di bangku perkuliahan kita sangat jarang diajarkan untuk mengasah dan menambah keterampilan yang dapat digunakan ke masyarakat, ataupun bagaimana cara pengaplikasian keilmuanan yang kita ambil sesuai dengan kebutuhan masyarakat. 

Perkuliahan saat ini lebih berorentasi kepada nilai yang bagus dan mampu menyelesaikan kuliah tepat waktu. Kita lebih sering disuguhkan dengan teori-teori teks book yang dilapangan jauh berbeda dari pembelajaran di kuliah. Akibatnya para sarjana terlalu canggung untuk menerapkan keilmuannya di tengah kehidupan masyarakat.

Hal ini sungguh memprihatinkan, karena mahasiswa yang seharusnya membuat perubahan bagi masyarakat malah menambah angka pengangguran yang akan menjadi masalah bagi negara. Kalau begini jadinya, untuk apa capek-capek kuliah dan menghabiskan banyak biaya, kalau pada akhirnya juga menjadi pengangguran. 

Sebenarnya yang di butuhkan masyarakat saat ini ialah seorang teknisi, bukan akademisi yang hanya bisa belajar teori. Sayangnya lulusan sarjana saat ini lebih banyak yang memahami sekedar teorinya saja, sedangkan praktiknya sangat jarang di lakukan. Sehingga ketika berhadapan dengan masalah yang ada di masyarakat, mereka pun bingung untuk menyelesaikannya. 

Misalnya seorang sarjana pertanian, saat para petani meminta untuk diajarkan cara menanam dan menghasilkan tanaman yang berkualitas unggul, mereka hanya bisa menjelaskan sesuai dengan pembelajaran yang telah didapat pada masa kuliah. Mereka sangat jarang untuk memperaktekkan lansung kepada masyarakat, karena bagaimana dia mau mempraktekkan, jika mereka sendiri tidak pernah turun ke sawah atau pun berkebun. 

Bisakah masyarakat mendapatkan ilmu dari mereka, sedangkan mereka tidak pernah mengerjakannya? Tentunya sarjana yang seperti ini tidak bisa dipakai di masyarakat dan hanya menyadang gelar saja. 

Begitulah sedikit gambaran problema yang di hadapi para sarjana saat ini, termasuk para sarjana lulusan Unsyiah. Bagi saya pribadi, saya tidak bangga dengan banyaknya penambahan fakultas baru, mahasiswa baru dan lulusan sarjana baru kalau setelah keluar dari Unsyiah hanya bisa menjadi seorang pengangguran intelektual. 

Kalau Unsyiah ingin menjadi jantong hate rakyat Aceh dan kampus terbaik nusantara tentunya juga diperhatikan lulusannya agar dapat berguna bagi rakyat Aceh, bukan untuk menambah angka pengangguran di Aceh.

Impian....!!!
Lulusan Sarjana Keperawatan Periode Mei - Juli 2014

Harusnya pihak rektorat memikirkan nasib sarjana lulusan dari Unsyiah, karena universitas yang baik tentunya melahirkan para sarjana yang mampu menghadapi berbagai situasi di masyarakat, terutama menjamin lulusannya tidak menjadi pengangguran. Jadi, apa yang harus dilakukan untuk membuat Unsyiah ini menjadi universitas terbaik? 

Saya yang masih seorang mahasiswi dari Unsyiah berharap setiap fakultas mempunyai wadah untuk mempekerjakan lulusan dari fakultas tersebut ke sebuah instansi yang didirikannya. Dan mungkin para sarjana lulusan Unsyiah pun juga berharap begitu. Hal ini bisa dijadikan sebagai praktik magang, sebelum mandiri untuk membuka usaha sendiri

Misalnya rumah sakit Prince Nayef Unsyiah, tentunya rumah sakit itu bisa menampung para dokter dan perawat untuk bisa bekerja di tempat tersebut. Namun pengelolaan yang kurang baik membuatnya masih belum bisa menjadi tempat bergantung masyarakat yang membutuhkan pertolongan ketika sakit. 

Mengapa saya katakan demikian? Pengalaman saya berobat ke tempat tersebut, sering tidak ada dokter dan malah rumah sakit tersebut terlihat sepi dibandingkan rumah sakit lain Di Banda Aceh. Sungguh sangat menyedihkan, padahal setiap tahun Unsyiah mencetak ratusan dokter dan perawat yang lulus dari Fakultas kedokteran, tapi kenapa dokter di rumah sakit Prince Nayef Unsyiah sering tidak ada? 

Begitu juga dengan pengelolaan lainnya, kenapa Unsyiah tidak membuat lahan pertanian yang hasil tanamanannya dijadikan pemasok utama bagi pasar-pasar yang ada di Aceh. Unsyiah harusnya membuka peluang usaha di bidang supermarket, kursus belajar untuk semua tingkatan, klinik konseling bagi yang mengalami gangguan mental, klinik stimulasi anak untuk merangsang tumbuh kembang anak, penyedian jasa desain bangunan, jasa pengacara, jasa desain baju dan lainnya. Dan semuanya ini berasal dari keilmuan yang ada di Unsyiah

Mudah-mudahan ke depannya Unsyiah dapat memberdayakan para sarjananya dengan membuka peluang usaha dalam berbagai sektor. Dengan di bukanya peluang usaha, maka lapangan kerja pun akan tersedia. Dan tentunya ini akan sedikit membantu para sarjana yang kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan. 

Cara ini bisa dijadikan wadah pembelajaran bagi lulusan sarjana Unsyiah, karena pengalaman kerja sangatlah dibutuhkan sebelum mereka terjun untuk membuka usaha sendiri dan menciptakan lapangan pekerjaan. Dengan adanya lulusan sarjana yang pintar secara akademisi dan teknisi, tentunya bisa membantu permasalahan rakyat Aceh, sehingga Universitas tertua di Aceh ini, benar-benar manjadi Universitas Jatung Hati Rakyat Aceh. 

* Lomba ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Unsyiah



SHARE

About Yelli Sustarina

Blogger Aceh - Suka Traveling - PeramuKata di perawattraveler - Aktif di Komunitas I Love Songket Aceh dan Griya Schizofren Aceh - biru warna favoritnya - "membaca untuk tahu, menulis abadikan bacaanmu".

    Blogger Comment
    Facebook Comment

4 komentar:

  1. Lulusan tiap tahunnya tidak sebanding dengan lapangan kerja yang ada saat ini, itu yang menjadi PR bagi kita semua,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maka dari itu lulusan Unsyiah harus kreatif dan inovatif supaya mereka yang lulus bukan berlomba untuk mencari pekerjaan, tapi membuka lapangan pekerjaan. Semoga lulusan UNSYIAH benar menjadi jantong rkayat Aceh yang membawa perubahan ke arah yang lebih baik.

      Hapus
  2. Maka dari itu sekarang sedang digencar2kan jiwa wirausahawan di kampus mulai dari seminar sampai workshop..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga saja dengan cara ini bisa memberi kontribusi banyak bagi warga Aceh ya mbak!

      Hapus

setiap komentar anda_ kebahagiaan bagi saya_ silahkan tulis komentar anda dibawah ini !