Kelompok Berlebel ‘24 + 1 = Sukses’

“Kamu nggak tersesat Dek, masuk ke kelompok kami?” tanya salah seorang teman dari kelompok 24. Pertanyaan serupa juga ditanyakan oleh beberapa orang anggota kelompok tersebut, yang sebelumnya sudah ku kenal jauh sebelum aku memutuskan untuk bergabung dengan kelompok mereka. Aku heran, kenapa mereka menanyakan hal itu, bahkan mereka menakuti-nakutiku dengan mengatakan “hati-hati Dek, nanti nilai Qe terancam, jangan mimpi dapat nilai ‘A’ disini, nama Qe nanti jelek di depan dosen, Qe harus berfikir ulang sebelum masuk ke kelompok ini, nanti nyesal Qe gabung dengan kami, kelompok kami sudah ada lebel. “What......, maksud mereka apa sih, ngomong seperti itu? Mereka mau meng-ospek Aku? Atau mereka nggak suka dengan kehadiranku di kelompok mereka?” Pikiranku berkecinamuk mendengar berbagai pertanyaan dari mereka. Telingaku sudah hafal betul dengan bentuk pertanyaan yang dilontarkan kepadaku, mulutku ini pun sudah malas rasanya menjawab untuk pertanyaan yang demikian. Sempat berfikir mau buat phortofolio dan membagikan kepada mereka latar belakangku, kenapa bisa tersesat di kelompok ini. Ada apa sih dengan kelompok ini? yang katanya kelompok BERLEBEL di mata para dosen? 

Keputusanku 6 bulan yang lalu untuk cuti satu semester, mempertemukanku dengan Kelompok 24. Ya.., kelompok campuran dari Reguler A dan B Fakultas Keperawatan (baca Kampus Biru) di perguruan tinggi negri ternama di sebuah Kota Madani. Mereka kebanyakan berasal dari D-3 Keperawatan yang melanjutkan pendidikannya di Kampus Biru. Anggota kelompoknya berjumlah 24 orang, yang rata-rata usianya jauh lebih tua di atas aku. Diantara mereka sudah ada beberapa orang yang menjadi Pegawai Negri Sipil (PNS), di puskesmas dan rumah sakit. Selain itu juga ada yang bekerja part time sebagai pengajar dan reseller di beberapa on line shop. Aku menemukan keberagaman di kelompok itu, namun sayangnya kelompok 24 mendapat pandangan yang tidak baik di lingkungan para dosen kampus biru.

Usut demi usut, ternyata anggota kelompok ini mempunyai catatan merah di kalangan dosen kampus biru. Dosen yang terkadang semena-mena terhadap mahasiswa, membuat geram para anggota kelompok yang mayoritasnya sudah pernah merasakan pengalaman kerja di dunia klinik kesehatan. Tidak setuju dengan perlakuan dosen tersebut, mereka berontak untuk meminta keadilan, yang membuat geram para dosen, karena sebelumnya mahasiswa yang dizalimi oleh dosen tertentu, merasa adem ayem saja, padahal yang ditindas dan yang menindas sama-sama tidak manusiawi, karena berada di lingkaran hitam penindasan. 

Memang aka akui, beberapa dosen di kampus biru itu diktator. Mereka tidak menyadari penindasan sedang berjalan di kalangan akademik. Misalnya saja membuat laporan pendahulan dan laporan akhir dengan tulis tangan, bukan satu atau dua lembar lo.., bahkan berlembar-lembar yang menghabiskan waktu dan tenaga serta pohon-pohon di hutan untuk membuat kertas. Di zaman serba canggih ini, mestikah harus menggunakan cara manual untuk mendokumentasikan hasil pekerjaan yang menuntut serba cepat ini? Di belahan bumi lainnya sewaktu aku mengikuti kuliah, dengan salah seorang dosen keperawatan yang berasal dari Australia, mengatakan mereka sudah mempunyai program yang dihubungkan dengan teknologi untuk mendokumentasikan catatan keperawatan pasien. Dengan demikian pekerjaan perawat bisa lebih mudah dan menghemat waktu. Nah, kita yang di kampus biru masih disuruh menggunakan tulisan tangan untuk pendokumentasian itu semua. 

Alasan para dosen menetapkan peraturan demikian, supaya menghindari plagiat atau copy paste dari satu dokumen ke dokumen yang lain. Alasan yang ke dua supaya mahasiswanya belajar saat memindahkan catatan dari buku ke catatan laporan. Ya.., ampun, please deh para dosen, harusnya analisis lagi ketika membuat peraturan seperti ini. Bukan membuat mahasiswanya bertambah pintar, tapi malah memperbodoh karena terpaku pada satu acuan. Mencatat, membutuhkan waktu yang lama dari pada membaca, karena mahasiswa terfikir untuk mencatat, jadi ketersediaan untuk membaca pun terbatas. Apa yang ada langsung di hajar terus, meskipun referensinya abal-abalan. Ditambah lagi beban kerja di rumah sakit saat dinas luar biasa capeknya. Dosen tahunya sih, kita dikasih satu pasien kelolaan dan dua pasien resume. Tapi, di lapangan kita mengurusi semua, ada 18 pasien di ruang itu, semua di pegang. Adek siswa menjadi pelampiasan kakak perawat dalam melakukan pekerjaannya. Bahkan laporan keperawatan yang seharusnya di isi oleh pegawai ruangan, juga adek siswa yang mengisinya. Bukankah itu yang namanya penidasan, kalau saya sebut itu penidasan psikis di kalangan akademis. Begitu sih, yang aku rasakan saat praktik di rumah sakit.

Ternyata pengalaman kelompok 24 ini lebih parah lagi. Mereka pernah diterlantarkan di salah satu rumah sakit negri di Kota Madani. Tepatnya pada stase manajemen keperawatan. Namanya aja manajemen, tapi dosennya tidak bisa mengatur jadwal bimbingan kepada mahasiswa, bahkan sudah satu minggu berjalan stase ini, dosenpun tak kunjung datang. Mereka menjadikan koridor ruangan sebagi base camp. Jadwal kunjungan dosen bolong-bolong, padahal SPP penuh dibayar, ruangan praktik tak layak pakai. Namun dosen kampus biru santai aja tu. Tidak terima dengan perlakuan seperti ini, anggota kelompok 24 mendiskusikan hal ini ke dosen, tapi apa yang mau di kata hukum kembali ke pasal satu masih berlaku. Mahasiswa di suruh bersabar, ya,, bersabar. 

Di stase Keperawatan Jiwa kelompok 24 juga bermasalah. Praktek setiap hari, laporan dibuat, tugas dilaksanakan, eh.., malah banyak yang mendapat C. Ternyata keterbukaan mahasiswa terhadap keluhan yang dialami selama praktik berpengaruh pada nilai. Kembali lagi kelompok 24 menghadap dosen yang bersangkutan. Lagi dan lagi kelompok 24 ini berkasus dengan dosen, yang namanya dosen tentu suka bergosip. Rupanya pengalaman buruk dosen menghadapi ulah kelompok 24, tersebar ke dosen-dosen lain. Maka diberilah lebel negatif di kelompok ini. Berita ini tersebar, hingga saat stase keperawatan komunitas di mulai, para dosesnnya sudah dibekali dengan lebel negatif kelompok ini. Untung ada dosen yang masih menggunakan akalnya untuk menilai secara objektif. Tapi ada juga dosen yang terpengaruh oleh suara-suara halus dari dosen yang pernah berkasus dengan kelompok 24.

Tidak salah saat aku pertama masuk ke kelompok 24 ditanyai yang macam-macam. Aku jelaskan ya kakak-kakak, dan abang-abang, aku jga mahasiswa berlebel. Aku izin cuti karena ketidaksanggupanku berada di bawah penidasan diktator kalangan akademik, bahkan aku sengaja mengundurkan diri di stase Keperawatan Anak. Bimbingan dosen jarang, kopetensi yang di dapat kurang, laporan abal-abalan. Mana mau aku keluar nanti dengan pengetahuan kosong, keterampilan melompong, nilai bohong. Aku qan mau mendirikan Yayasan Paduli Anak, cie., cie gaya, (Doakan aja) J. Tak maulah ilmuku cilet-cilet, ini salah satu bentuk investasiku di masa depan. Tak mengapalah lama kuliahnya, yang penting jaringannya luas, akasesnya tak terbatas, dan kerjanya ikhlas. 

24 orang anggota kelompok berlebel + 1 orang mahasiswa berlebel, aku rasa cukuplah untuk menggebrak dunia keperawatan 5 tahun mendatang. Lebeling ini dijadikan cambuk untuk terus berlari menuju kesuksesan. Hal yang unik aku temukan ada pada mahasiswa 24 + 1 ini. Orang-orangnya tidak terlalu kaku, kalau kritis memang benar, kebangetan malah. Santai memang benar, tapi tugas juga selesai. Bahkan kelompok berlebel ini pernah dimuat di surat kabar “Mahasiswa K3S Unsyiah Suluh Lansia tentang Rematik”. Cukup berkesan juga sih, karena jarang-jarang kegiatan mahasiswa diliput oleh media ternama di Nanggroe Serambi. 

Serambi Indonesia, edisi 23 Februari 2016 
Hidup ini memang unik dan menarik. Tiga bulan bersama kelompok berlebel, mengabdi di Gampong Lamreh, Kec. Darussalam, Kab. Aceh Besar sebagai tim medis keperawatan, memberiku banyak ilmu terkait masyarakat. Kerja tim sangat di perlukan dalam hal ini, kekompakan harus dijaga. Disinilah ide, presepsi dan ideologi harus disamakan. Aku melihat mereka yang sudah berstatus sebagai PNS, atau yang sudah mempunyai pekerjaan harus memposisikan dirinya sebagai seorang mahasiswa. Ingatlah temans, sesukses apapun jadinya engkau nanti, jangan lupakan kita pernah berjuang menjadi mahasiswa. “Untuk apa mempersulit, kalau tidak bisa mempermudah”. Jadilah orang yang mengerti terhadap posisi orang lain. 24+1 = SUKSES. Insyaallah..,!

Kelompok Berlebel 

SHARE

About Yelli Sustarina

Blogger Aceh - Suka Traveling - PeramuKata di perawattraveler - Aktif di Komunitas I Love Songket Aceh dan Griya Schizofren Aceh - biru warna favoritnya - "membaca untuk tahu, menulis abadikan bacaanmu".

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar

setiap komentar anda_ kebahagiaan bagi saya_ silahkan tulis komentar anda dibawah ini !