PARA SRIKANDI ACEH dan EMANSIPASI PEREMPUAN



Ketika bertepatan pada tanggal 21 April, kita selalu disuguhkan dengan satu nama yang katanya pahlawan. Di tanggal ini juga ditetapkan sebagai hari kebangkitan perempuan pribumi Indonesia. 

Raden Adjeng Kartini namanya, perempuan yang disebut sebagai tokoh emansipasi perempuan, yang telah memperjuangkan hak-hak kaum perempuan. 

Emansipasi ialah istlah yang digunakan untuk menjelaskan sejumlah usaha untuk mendapatkan hak politik maupun persamaan derajat. Sedangkan menurut kamus bahasa Indonesia emansipasi ialah pembebasan dari perbudakan.

Perjuangan seorang RA Kartini dalam membela kaumnya, telah memposisikannya sebagai pahlawan perempuan ternama di negri ini. Bahkan hari kelahiranya ditetapkan sebagai hari kebangkitan perempuan pribumi Indonesia. Kenapa hanya satu nama yang muncul dari sekian banyak kaum perempuan pribumi di Indonesia? 

Nama yang selalu diagung-agungkan dan bahkan disebut dalam sebuah lagu nasional “Ibu Kita Kartini” karya Wage Rudolf Soepratman. Padahal jauh sebelum era Kartini, perempuan sudah mendapat posisi yang baik dalam bidang pendidikan, politik, ekonomi dan bahkan dalam bidang pertahanan negara. Semua itu dapat ditemukan pada perjuangan para srikandi Aceh yang sejarahnya terlupakan.

Kepemimpinan Perempuan Aceh


Lakseumana Keumala Hayati Foto : mimbarislam.com
Sebelum adanya istilah gerakan emansipasi perempuan, porsi perempuan dalam kepemimpinan di Aceh sudah mendapatkan derajat yang tinggi. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya 5 orang perempuan Aceh yang pernah menjadi pemimpin, pada zaman kerajaan Samudera Pase dan masa kerajaan Aceh Darussalam. 

Lima wanita itu ialah Sulthanah Rahi Malikah Nihrasiah Rawangsa, Sultanah Tajul Alam Syafiatuddin Syah, Sultanah Nurul Alam Zakiyatuddin Syah, Sultanah Zakiyatuddin Inayat Syah, dan Sultanah Kamalat Diatuddin Syah (Emtas, 2009, p.122).

Dalam sistem perpolitikan perempuan Aceh juga sudah mengambil bagian. Hal ini terlihat dari adanya keanggotaaan perempuan sebagai Mahkamah Rakyat, atau yang saat ini disebut sebagai Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). 

Mahkamah Rakyat ini terbentuk pada masa Sulthan Iskandar Muda, atas usulan istrinya yaitu Putroe Phang. Lembaga ini yang membuat qanun (Undang-Undang) kerajaan dan juga sebagai tempat bermusyawarah. 

Menurut catatan Said Abdullah Teungku Dimulek selaku Wazir Sri Rama Kitabul Muluk (mentri sekretaris Negara), pada masa Sulthan Alaiddin Mahmud Syah (1870-1874 M), dituliskan nama-nama anggota majelis Mahkamah Rakyat. Saat pemerintahan Sulthanah Tajul Alam Safiatuddin (1641-1676 M), tercatat sebanyak 73 orang majelis Makamah Rakyat dan 26 orang diantaranya ialah perempuan. 

Keikutsertaan kaum perempuan dalam dunia perpolitikan menunjukkan bahwa betapa majunya pemikiran perempuan pada masa kerajaan. Dalam sistem pertahanan negara, nama Lakseumana Keumala Hayati sudah dikenal sebagai panglima angkatan perang Kerajaan Aceh Darussalam. 

Kepiawaiannya dalam mensosialisasikan Reusam yaitu tentang diplomasi, protokoler dan etika, menyematkan namanya sebagai simbol Reusam. Beliaulah perempuan Aceh yang lembut, tapi penakluk. 

Pasukan perangnya yang berjumlah ribuan, disebut sebagai pasukan Inong Balee karena terdiri dari perempuan janda. Pada masa itu perempuan sudah ikut berperang yang menunjukkan bahwa perempuan bukanlah kaum ketertinggalan seperti masa di era Kartini.

Pada zaman perang melawan kaphe-kaphe Belanda, perempuan Aceh tidak hanya duduk diam di rumah menunggu selesainya perang. Mereka ikut terlibat dalam mengatur strategi perang dan bahkan ikut bertempur dalam perperangan. Semangat juangnya sangat tinggi, bahkan meskipun nyawa sebagai taruhannya. 


Para Srikandi Aceh yang langsung terlibat dalam perang yaitu; Pocut Baren yang salah satu pahanya ditembak oleh pasukan Belanda, dan tetap tidak mau tunduk kepada Belanda saat penawaran damai diajukan. Pocut Meurah Biheu yang berani melakukan perang jarak dekat, dengan menggunakan rencong melawan patroli Belanda dibawah pimpinan Letkol T.J Velman pada tanggal 1 November 1902. 

Cut Nyak Dhien
Sumber Foto dari Google 

Cut Nyak Dhien yang di akhir perjuangannya diasingkan ke Seumedang Jawa Barat, hingga beliau meninggal pada 6 November 1908 dan tidak pernah tunduk dengan Belanda. Cut Meutia yang melanjutkan perjuangan suaminya bergeriliya, sampai akhirnya beliau gugur ditembak pada tanggal 25 Oktober 1910 dalam pertempuran di Krutoe. 

Para Srikandi Aceh ini telah jauh lebih dahulu mempraktikkan emansipasi wanita sebelum negri-negri di belahan Eropa dan Kartini di Indonesia melakukannya.

Emansipasi Masa Kini



Semenjak Kartini dijadikan sebagai tokoh emansipasi perempuan, banyak kekeliruan dalam mengartikan emansipasi itu sendiri. Emansipasi dijadikan sebagi ‘kedok’ kebebasan para perempuan dan dianggap sebagai pemberontakan wanita dari kodrat kewanitaannya. 

Gerakan emansipasi bukanlah untuk menyamakan perempuan dengan laki-laki, dalam artian apa yang dilakukan laki-laki semuanya harus bisa dilakukan oleh perempuan. Keperkasaan fisik bukanlah menjadi tolak ukur dalam hal ini, yang lebih diutamakan ialah kecerdasan dalam berfikir dan melakukan sesuai dengan peran kewanitaannya. 

Emansipasi yang dilakukan oleh Kartini saat itu ialah membebaskan kaum perempuan dari kebodohan dan ketertinggalan, karena saat itu Indonesia sedang dijajah secara fisik maupun intelektual. 

Harga diri perempuan dijatuhkan oleh para penjajah, sehingga perempuan merasa takut dan tidak berguna. Pada kondsi itu, apa yang dilakukan kartini ialah hal yang tepat, karena sedang masanya perempuan Indonesia membangun kembali kepercayaan dirinya dengan memperoleh pendidkan. 

Kartini sendiri mungkin tidak tahu, apa yang dilakukannya saat itu ialah sebuah gerakan emansipasi perempuan. Suatu keharusan dan panggilan jiwa bagi drinya yang terlahir dalam keluarga bangsawan, untuk membantu kaum perempuan pribumi dalam mendapatkan pendidikan.

Istilah emansipasi hanya dengungan bagi orang-orang barat saja, yang sebenarnya praktek dan tindakannya sudah dilakukan oleh para perempuan yang mempunyai ilmu pengetahuan. Namun sayangnya sekarang untuk mengukur pengetahuan tersebut, cara yang dilakukan bukanlah seperti praktik Kartini ataupun para Srikandi Aceh. 

Ajang kontes kecantikan yang menjadi minat wanita saat ini
Sumber foto dari Google 

Ajang kontes kecantikan merupakan emansipasi perempuan masa kini. Anggapan bahwa kecantikan ialah suatu hal yang bisa mengangkat derajat perempuan, dengan aksi lenggak-lenggok berbalut baju gelamor, telah menjatuhkan martabat perempuan itu sendiri. 

Bagi para perempuan, bukalah mata lebar-lebar dan gunakan pikiran, apa yang sebenarnya emansipasi yang didengungkan itu. Kembali belajar dari para leluhur kita terdahulu, emasnsipasi itu bukan dilisankan, tapi dipraktekkan.
SHARE

About Yelli Sustarina

Blogger Aceh - Suka Traveling - PeramuKata di perawattraveler - Aktif di Komunitas I Love Songket Aceh dan Griya Schizofren Aceh - biru warna favoritnya - "membaca untuk tahu, menulis abadikan bacaanmu".

    Blogger Comment
    Facebook Comment

2 komentar:

  1. Ahhh ... iya juga ya. Perempuan memang perlu untuk menjadi cerdas -- wajib malah -- sehingga cerdas pula untuk nggak sembarangan memamerkan kemolekan tubuhnya.

    Emansipasi itu ... saatnya perempuan menjalankan fungsi yang sebenar-benarnya sebagai perempuan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Karena perempuan yang cerdas akan melahirkan para generasi yg cerdas pula ya mbak! Jadi tidak hanya sekedar cantik, namun bisa menjadi ibu yang mengarahkan anaknya menjadi anak yang bisa berbakti bagi agama, nusa, dan bangsa. Terima kasih sudah berkunjung mbak!

      Hapus

setiap komentar anda_ kebahagiaan bagi saya_ silahkan tulis komentar anda dibawah ini !