“Man Jadda Wajada” SEC 2016 I’m coming..,!


Baner Social Entrepreneur Camp 2016

Suatu kebahagian luar biasa bagiku lewat seleksi tahap awal Social Entrepreneur Camp (SEC) 2016. Dari 250 pendaftar SEC 2016, hanya 45 usaha yang dipanggil untuk tahap berikutnya yaitu pitching atau persentasi usaha.

SEC adalah sebuah program pelatihan dan pendampingan usaha bagi pelaku wirausaha konvensional yang berkeinginan melakukan pengembangan bisnis dalam bentuk pemberdayaan masayarakat. 

Awalnya aku tidak menyangka konsep usaha yang aku tawarkan diterima mereka, pasalnya aku mengirimkan berkas itu lewat dari batas deadline yang ditentukan. Terakhir pengiriman berkas pada tanggal 30 Desember 2016 pukul 23.59, sedangkan aku mengirimkan berkasnya pada tanggal 31 Desember 2016 pukul 07.15 wib.

Hal ini dikarenakan koneksi internet di kampungku yang super lola (Loading lama). Aku mencoba berkali-kali mengirimkan berkasanya malam itu, tapi gagal lagi, gagal lagi.

Aku menggunkan hotspot dari Andoid ku untuk bisa tersambung dengan jaringan internet, namun sayangnya malam itu signalnya hilang, hilang timbul. Maklumlah aku tinggal di pelosok gampong yang masih banyak pepohonannya, mungkin signalnya tersangkut di pohon-pohon tinggi di sekitar rumah ku itu kali, hehehe. 

Aku terus berusaha untuk mengirimkan berkas itu, jam sudah menunjukkan pukul 00.47 wib. Ayah menyuruhku untuk segera tidur, karena waktu sudah larut malam.

Aku memberikan penjelasan kepada Ayah bahwa ada berkas yang harus aku kirimkan malam ini, sedikit penjelasan bla.. bla.., bla.., Ayahpun mengerti dan dia pun akhirnya tidur duluan.

Semua orang di rumahku sudah terlelap dengan mimpinya masing-masing. Aku sibuk di depan laptop yang masih menyala menunggu proses loading lampiran file yang jalannya kayak siput, lama...... banget.

Aku pun berfikir untuk meletakan Android ke tempat yang lebih tinggi, mungkin signalnya kalah saing dengan pepohonan di sekitaran rumahku.

Jadi aku naik ke lantai dua rumahku yang belum selesai dibangun, dan meletakkan Android ku disitu, berharap signalnya kuat dan aku bisa megirimkan berkas itu malam ini.

Ternyata.., api jauh dari panggang, proses loadingnya pun semakin lama. Aku bolak balik turun naik tangga dari bawah ke lantai dua untuk memastikan apakah Android ku baik-baik saja alias tidak mati, ataupun mungkin diambil orang karena aku letakkan begitu saja di atas rumahku yang belum selesai dibangun itu.

Bisa sajakan ada orang yang melihatku meletakkan Android ku dan dia mengambilnya, ya Allah.., nauzubillahiminzalik.., pikiran ku ini curiga terus..,!

Tapi kita harus antisipasi juga kan..?! Pukul 01.23 wib Aku sibuk turun naik tangga seperti setrikaan. Keadaan laptopku yang tidak bisa lepas dari carger nya, susah untuk di bawa keman-mana. Jadi, laptop ku tinggalkan di bawah, Andorid ku letakkan di atas rumah.

Bisa dibayangkan, tengah malam aku sibuk turun naik tangga, apalagi di atas rumahku itu tidak ada lampu, mungkin kalau ada hantu yang melihatku saat itu, pasti dia mengatakan

“Ngapain sih anak manusia ini naik turun tangga di jam malam ku ini?”

  itu kan menurutku saja., hehehe. Ok., ok., balik ke topik.

Akhirnya aku menyerah, aku putuskan untuk mengirimkannya besok pagi, karena aku sudah mulai lelah naik turun tangga sampai belasan kali. Aku mematikan laptop dan mengambil Android ku di atas rumah, cukup untuk perjuangan kali ini. Aku pun tidur. 

Kukuruyuk....., kukuruyuk.., kukuruyuk..,

Ayam jantan tetanggaku bersahut-sahutan bersuara membangunkan anak manusia yang sedang tidur terlelap dengan mimpi-mimpi indahnya.

Di gampongku ini tidak perlu alaram jam walker, atau apalah sejenisnya untuk membangunkan orang tidur. Cukup si jago merah dan teman-temannya untuk meneriakkan hari sudah subuh, ayo bangun.., dengan bahasa kukuruyuknya, kemudian disambut dengan Azan subuh yang bersahut-sahutan terdengar dari pengeras suara mesjid antar gampong.

Aku terbangun, jam 05.06 wib. Aku pun bersegera menunaikan shalat Subuh.

Setelah shalat, Aku teringat lagi dengan berkas yang belum ku kirimkan. Meskipun batas pengumpulannya sudah lewat, aku tetap mencoba untuk mengirimkannya.

“Man jadda, wa jadda (Barang siapa yang bersungguh-sungguh, dia akan mendapatkan hasilnya)”. 

Aku menggunakan kata yang biasa dipakai Alif dalam novel Lima Negri Menara karya A. Fuadi. Aku tetap mengrimkan berkas itu. Kembali lagi Aku melatakkan Android ku di atas rumah, berharap signalnya kuat dan pohon-pohon berbaik hati melepaskan signal ke Android ku.

Kali pertama, masih Lola, kemudian kali kedua, juga gagal, kail ketiga gagal lagi, hingga kali keempat akhirnya lampiran file memuat dengan sempurna. Aku pun tersenyum, Alhamdulillah ya Allah. 

Aku sadar betul, pengumpulan berkas fomulir ini sudah lewat batas pengirimannya. Tapi, apa salahnya mencoba bukan?! Kemudian saat melampirkan berkas ini, ku tuliskan di badan email:

“Mohon maaf atas keterlambatan pengiriman formulir deskripsi usaha sosial ini, semoga pihak panitia bisa memakluminya”. 

Aku kirimkan dengan perasaan bersalah atas keterlambatan pengiriman berkas ini, usaha ku sudah cukup, sekarang Allah lah yang menentukannya, Semangat.... kataku di dalam hati.

Terkirim pada tanggal 31 Desember 2016, pukul 07.15 wib.


Para pengrajin rajut dari Gampong Air Sialang Hilir

Isi dari deskripsi usaha sosial ku itu tentang usaha rajut yaitu:

Yellsaints Rajut yang berdiri sejak tahun 2014 lalu. Aku memberdayakan kaum perempuan yang ada di gampongku untuk mengisi aktivitas senggangnya dengan merajut. Gampongku ini memang terkenal dengan gampong pengrajin, tepatnya pengrajin kasab sulam benang emas.

Akan tetapi, akhir-akhir ini, susah mendapatkan bahan baku benang emas dan harganya pun sudah mahal. Selain itu, produksi kasab hanya sebatas untuk pelaminan saja, dan hanya dipesan bagi orang-orang tertentu saja. Jadi aku berinisiatif untuk membuat rajut dengan motif-motif kasab, karena motif tersebut mempunyai filosofi.

Maka terbentuklah rumah usaha Yellsaiant Rajut sebagai wadah tempat berkumpulnya para pengrajin rajut. Alhamdulillah ibuku dan beberapa saudarku mempunyai basic merajut. Aku pun mulai mencari kreasi rajut yang ada di internet, sehingga rajut yang dihasilkan Yellsaints Rajut, punya khas tersendiri dan beda dengan rajut yang lain.

Konsep utamanya terletak pada perpaduan motif dan warna. Motif utama berupa motif kasab seperti motif pucuk rebung, sisik rumbia, tampuak ampek, takat sabalah, motif naik turun dan motif ukiran nama. Sedangkan untuk anyaman sisir terdapat motif belah ketupat, silang, bunga, sisik ikan dan turun naik.

Hasil produk Yellsaints Rajut

Rajut yang berupa tas dan dompet ini disukai di berbagai kalangan, karena pemesan bebas menentukan warna, motif dan ukuran yang ditawarkan. Para pengrajinpun membuatnya sesuai dengan pesanan pelanggan, jadi ada kepuasan tersendiri bagi pelanggan karena sesuai dengan yang diinginkannya.

Tugasku ialah mempromosikan hasil rajut buatan pengrajin Yellsaints Rajut, mengemasnya menjadi lebih menarik, membuat katalog rajut dan mencari inovasi terbaru supaya rajut yang dihasilkan tidak menoton.

Merk produk Yellsaints Rajut


Alhamdulillah usahaku ini mendatangkan untung bagi para pengrajin rajut di kampungku. Saat ini ada 10 orang pengrajin rajut Yellsaints Rajut, yang terdiri dari lima orang Ibu Rumah Tangga, 2 orang mahasiswa, dan 3 orang pelajar. Tapi hanya lima orang pengrajin yang benar-benar fokus menargetkan setiap harinya ada rajut yang di hasilkan.

Sedangkan lima lagi masih perlu bimbingan untuk memfokuskan diri karena juga terkendala dengan sekolah dan kuliah mereka. Tapi aku yakin dan optimis dengan usaha ini, targetku selanjutnya ialah membuat pelatihan rajut di gampong lain dan menjadikan mereka sebagai patnerku untuk memproduksi rajut, karena pasar tas dan dompet rajut Yellsaints Rajut baguslah,, apalagi sekarang lagi nge-trend tas rajut.


Hasil produk tas Yellsaints Rajut
Alhamdulillah, pada tanggal 7 Januari 2016, Aku mendapatkan kabar dari panitia SEC 2016 yang di sponsori oleh Dompet Dhuafa lulus ke tahap pitching.

Hore..hore..,hore.., tapi aku galau juga sih.., karena pitching nya terdapat di 10 kota berbeda dan tidak termasuk Aceh di dalamnya.

Pilihan terdekat ialah Medan, 9 Februari 2016.

Aku mendaftarnya dulu, padahal di tanggal tersebut Aku sedang praktek di keperawatan komunitas (Co Ass), ahh..., yang penting aku daftar.

Sekarang Aku sedang memikirkan cara bagaimana meminta izin ke dosenku untuk ke Medan beberapa hari.

Kendala yang kedua ialah, pihak panitia tidak menyediakan transportasi dan akomodasi bagi peserta yang lulus ke tahap pitching. Jadi, aku harus berusaha mengumpulkan uang sendiri untuk biaya keberangkatan ini.

Salah satu cara yang tepat ialah meningkatkan hasil penjualan rajut. Ayuk teman-teman belanja tas rajut Yellsaints Rajut, supaya aku bisa berangkat ke Medan mempersentasikan usaha Yellsaints Rajut, hehehehe. Semangat.......!!!

SHARE

About Yelli Sustarina

Blogger Aceh - Suka Traveling - PeramuKata di perawattraveler - Aktif di Komunitas I Love Songket Aceh dan Griya Schizofren Aceh - biru warna favoritnya - "membaca untuk tahu, menulis abadikan bacaanmu".

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar

setiap komentar anda_ kebahagiaan bagi saya_ silahkan tulis komentar anda dibawah ini !