Anak Pulau

Saat mata memandang di pulau yang penuh ketenangan (Pulau Aceh)
Empat hari tidak cukup rasanya berada di pulau paling barat Aceh ini. Suasana pantai dan alamnya masih sangat alami. Saat pertama kali ku injakkan kaki ke pulau ini, terasa seperti berada jauh puluhan tahun silam. 


Tidak terdengar suara kendaraan, atau hiruk pikuk manusia yang sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Hanya terdengar hempasan ombak di tepi pantai dan beberapa kicauan burung yang berada di sekitar hutan tepi pantai.

Pelabuhan Boat di Pulau Aceh
Namun aku sedikit terkejut saat melihat aksi seorang nelayan yang melompat ke laut untuk mengikat tali boat supaya boat tersebut bisa besandar ke pelabuahan. Sungguh aksi yang menabjubkan. 


Kami bertepuk tangan saat nelayan itu berhasil memajat tonggak pelabuhan setinggi 3 m. Aksinya mirip seperti film super hero di TV, atau mungkin si bajak laut Luffy dalam film One Piece. 



Tapi, ini versi aslinya, Luffy dari Pulo Aceh, HAHAHAHA. 



Kami semua turun dari kapal dan mengucapkan terimakasih ke nelayan dari Pulo Aceh itu. Aku sangat senang, suasananya mirip di Tapaktuan, kampungku. Apalagi aku sangat suka suasana pantai, begitu asrinya suasana alam ini, terasa seperti di pagi hari. Padahal jam menunjukkan pukul 13.55 wib. 



Lelahku hilang seketika menyaksikan panorama ciptaaan Tuhan Yang Maha Kuasa, sungguh belum terjamah oleh tangan-tangan jahil manusia. Begitu semangatnya aku menyaksikan pemandangan ini, tak terasa lelahnya perjalanan selama 4 jam yang ku tempuh menggunakan kapal nelayan.

    
Saat di atas kapal aku sempat beberapa kali tertidur, karena lamanya perjalanan itu. Setiap kali aku terbangun dari tidurku, hamparan samudra hindia berada di depan mataku, diselingi oleh beberapa pulau yang tidak ku tau apa nama pulau itu. 


Saat aku melihat ke atas, terbayang dua minggu lalu saat aku berada di dalam pesawat, begitu kecil nampaknya dari atas sana. Tapi kali ini, aku berada di tengah lautan yang sangat luas ini. Sungguh dua suasana yang jauh berbeda, tiada lain yang ku ucapkan hanya rasa syukur terhadap sang maha pencipta.


     Aku dan rombongan Relawan Turun Tangan Aceh, melakukan kegiatan sosial di Pulau Breuh, tepatnya di Gampong Meulingge, Pulo Aceh. Kami memberikan semangat belajar kepada anak-anak Sekolah Dasar yang berada di desa tersebut. 

Mereka sangat ramah-ramah, saat kami tiba di perkampungan, mereka langsung menyapa dan mendekati kami, bahkan mereka tidak beranjak dari rumah yang menjadi tempat tinggal kami.

     Kedatangan kami sangat di sambut baik oleh masyarakat setempat. Mereka menyebut-nyebut kami dengan panggilan kakak Aceh. Aku sedikit terheran dengan panggilan itu. 

Ternyata mereka menyebut orang-orang yang berada di seberang lautan sana sebagai orang Aceh. Memang mereka bukan orang Aceh apa? gumamku dalam hati.

Aku mencoba mendekati anak-anak itu, mereka sangat senang saat aku mengajak mereka berbincang-bincang. Aku bertanya kepada mereka, yang menurutku pertanyaan ini konyol

 “Adek-adek ini orang mana?” 

Secara serentak mereka menjawab:

 ‘Anak Pulau”. 

Salah seorang anak balas bertanya kepadaku, “Kakak orang Acehkan?”.

Aku sedikit terkejut dengan pertanyaanya,

 “Memang kalian ini bukan anak Aceh?”.

 “Bukan kak, aku anak pulau, itu anak Aceh”

salah seorang anak menunjuk kawannya yang rupanya berasal dari Aceh Besar. 

Beberapa kali pertanyaan itu aku lontarkan kepada mereka, namun mereka tidak merasa bahwa mereka juga orang Aceh, apa yang membuat ini bisa terjadi?

     Saat aku pergi membeli makanan di sebuah kios, terdengar percakapan dua orang nelayan yang sedang menenteng ikan hasil tangkapannya. Ikanya besar-besar, dan aku langsung teringat sama Ayah yang sangat suka jenis ikan kerang ini. 

Dalam percakapan mereka terdengar oleh ku dengan menggunakan bahasa Aceh, begini artinya dalam bahasa Indonesia 

“Ikan ini mahal kalau dijual ke Aceh, Orang-orang Aceh sangat suka ikan ini”.

 Aaa.... ? Apa aku nggak salah dengar, mereka menyebut orang diluar kediaman mereka sebagai orang Aceh, lantas mereka orang apa?

     Begitu jauhnya keberadaan mereka, sehingga mereka enggan menyebut dirinya sebagai orang Aceh. Padahal jika kita lihat di pantai, jarak antara pulau Aceh, dengan Banda Aceh nampak terlihat jelas diseberang sana, namun mengapa mereka merasa jauh? 

Dibandingkan pulau tetangga mereka yaitu Sabang, jauh lebih maju dibandingkan dengan mereka. Padahal jarak kedua pulau ini dari Banda Aceh hampir sama, namun kenapa terjadi perbedaan yang luar biasa?

****

     Kampung ini merupakan kampung terparah dampak tsunami Aceh yang terjadi 2004 silam. Lebih dari setengah penduduk Pulo Aceh meninggal dunia, namun tidak banyak yang tahu tentang hal itu. 

Bahkan dua minggu setelah kejadian tsunami, belum ada bantuan yang datan ke daerah ini, mereka selamat karena hidup bergantung kepada alam dengan memakan daun-daunan dan apa saja yang bisa di makan.


Sepuluh tahun pasca tsunami, kampung ini juga sangat jauh ketinggalan dibandingkan kampung lain. Bayangkan untuk mencari jaringan telekomunikasi saja, kita harus meletakkan ponsel di sebuah tempat yang terdapat titik signal. 

Aku merasa aneh dan kasihan melihatnya, untuk menelpon saja mereka harus menunggu dulu jaringan muncul di tempat tersebut, ibarat sebuah terminal, handphone itu harus nangkring dulu menerima pesan masuk.

     Rumah penduduk di daerah tersebut rata-rata sama, yaitu rumah bantuan tsunami yang ukurannya tidak terlalu besar. Rumah Sekolah yang aku tau hanya sebuah Sekolah Dasar dengan jumlah murid keseluruannya dari kelas 1-6 sekitar 38 orang. 

Satu kelas hanya terdapat 4 bangku dan memakai papan tulis yang menggunakan kapur tulis. Anak-anak di daerah ini tidak terlalu banyak, karena meninggal saat stunami 2004 silam, kata seorang guru yang ada di sekolah tersebut, mereka biasa memanggilnya dengan sebutan Yahwa.

Gedung sekolahnya memang tergolong bagus, paling tidak jauh lebih baik dibandingkan sekolah Laskar Pelangi yang ada di Pulau Bangka Belitung. 

Tapi, gurunya sama seperti film tersebut. Hanya dua orang guru, satu perempuan satunya lagi laki-laki. Kemudian satu orang kepala sekolah yang bukan berasal dari kampung tersebut dan sangat jarang berada di sekolah. 

Saya tidak tahu bagaimana guru tersebut membagi waktunya untuk mengajarkan murid-murid tersebut.

Satu lagi yang membuat saya merasa aneh, kegiatan kami saat itu pada hari jumat. Ternyata mereka di hari jumat, untuk anak kelas 6 dimulai pelajaran pada pukul 09.00 wib. Sedangkan untuk anak kelas 1-5, jam pelajaran dimulai pada pukul 10.00 wib. 

Pembagian waktu seperti ini dikarenakan keterbatasan tenaga pengajar. Sekolah berakhir pukul 12.00 wib, hanya sekitar 2-3 jam saja mereka belajar di sekolah. Lantas bagaimana mereka disamakan dalam ujian nasional sedangkan apa yang mereka terima jauh dari standar nasional.

Walaupun demikian, anak-anak tersebut mempunyai semangat belajar yang tinggi. Tapi satu yang aku sayangkan dari mereka, kenapa mereka tidak meyebut dirinya sebagai orang Aceh?

Inikah dampak ketidakpedulian kita terhadap orang-orang diseberang pulau sana, sehingga mereka merasa bukan bagian dari kita.

Kami dari komunitas Turun Tangan Aceh, memberikan penjelasan kepada mereka, bahwa kita semua ini sama, yaitu Anak Aceh dan Anak Indonesia. 

Materi yang kami ajarkan sedikit berbeda, dibantu oleh salah seorang pengajar muda dari alumni Indonesia Mengajar yang baru pulang dari Maluku. 

Kami menerapkan teknik bermain sambil belajar. Kami membagi setiap anak menjadi 4 kelompok, dan anak tersebut digilir memasuki setiap kelas yang sudah diberikan nama. Ada kelas Nusantara, Cita-Cita, Kebangsaan dan Motivasi.

Aku mendapatkan kelas motivasi, yaitu memotivasi anak-anak agar semangat untuk belajar dan sekolah. Layaknya seorang Mario Teguh, aku menggebu-gebu menyampaikan kata penyemangat kepada mereka. 

Dalam kelas itu saya tekankan kepada mereka satu kalimat penyemangat supaya berbekas saat keluar dari kelas tersebut. Kalimat penyemangat itu ialah “Aku Bisa, Pasti Bisa”. Dan benar saja, saat dievaluasi ketika mereka mau pulang, kalimat tersebut masih bisa mereka ingatkan dan diucapkan dengan lantang.

Aku berharap kata itu menjadi penyemangat mereka sampai menuju cita-cita yang mereka inginkan.

     Seharian itu kami habiskan waktu untuk berbagi dengan anak-anak Sekolah Dasar di Desa Melingge. 

Nah, saatnya keesokan harinya, tepat pada hari Sabtu 03 Oktober 2015, kami menuju Willem’s Torent di Puncak Pulo Breuh. Willem,s Torent adalah menara mercusuar peninggalan Belanda saat bangsa ini dijajah oleh orang-orang dari Negri Kincir Angin itu. 

Hanya ada dua rupanya di dunia, satu di Belanda, satunya lagi di Pulo Aceh. Kebanggaan bagiku bisa menuju puncak mercusuar itu.

Perjalanan menuju mercusuar dilakukan dengan berjalan kaki selama satu jam setengah. Meskipun medan yang ditempuh berupa bukit dengan kemiringan 30ΒΊ, tidak membuatku merasa lelah. 

Aku sangat bersemangat menempuh perjalanan itu. Banyak yang ku temukan jenis tumbuhan hutan yang tumbuh disekitar jalan yang kami tempuh. Salah satunya ialah bunga Kincuang (bahasa Aneuk Jame), saya tidak mengrtahui apa nama latin dari bunga ini. Setahu saya, bunga ini bisa digunakan sebagai pelengkap makanan seperti sambal dan gulai.

Setiba di Mercusuar, aku menyaksikan pemandangan alam yang luar biasa indahnya. Tapi sayangnya tidak semua pulau terlihat, karena tertutup kabut asap. 

Huhhh,, daerah tetangga kita ternyata mengirimkan asap sampai ke Aceh. Tapi aku tetap bersyukur karena, masih terlihat beberapa pulau terdekata yang berada di sekitarnya. Rasa syukurku tidak henti-hentinya terucap.

Disekitar Mercusuar, terdapat sebuah rumah peninggalan Belanda. Arsitektur rumahnya sangat mirip dengan rumah-rumah Belanda yang aku lihat di film Soerkarno dan film Habibi & Ainun. Aku merasa kembali berada jauh di puluhan tahu silam. 

Rumah tersebut ditempati oleh pekerja dari dinas perhubungan Indonesia. Mereka bekerja merenovasi rumah tersebut. Disamping rumah itu, terdapat Tangga Putih menuju sebuah rumah tua yang hanya tinggal dindingnya saja. Rumah tersebut juga merupakan bekas rumah peninggalan Belanda.

     Saat aku berada di dekat dinding tua itu, agak sedikit ngeri, karena suasananya mirip dengan film horor. Gedung tua inilah yang menjadi saksi bisu peristiwa yang terjadi ratusan tahun silam dan kedahsyatan gelombang tsunami menghantam pulau ini. 

Setelah puas mengambil foto di berbagai sudut sisi yang berbeda, saatnya menuju puncak mercusuar.

     Untuk menuju puncak mercusuar itu, kita harus melalui sekitar 178 anak tangga yang berkelok-kelok, hingga sampai ke atas. Sedikit lelah dan pusing juga melewati anak tangga tersebut. Tapi rasa lelah itu tergantikan dengan pemandangan yang begitu indah. 

Terlihat semua pulau-pulau yang berada disekitarnya. Suara kapal nelayan sangat terdengar jelas, kapal-kapal itu beririg-iringan layaknya sebuah parade balapan. 

Dari atas sini terlihat begitu kecil orang-orang yang berada di bawah, dan hijaunya pemandangan air laut sangat jelas nampak di atas sini. Aku berharap bisa datang untuk kedua kalinya bersama orang terdekatku nantinya.

     Setelah puas berada di atas sana dan selfie dengan berbagai gaya, kami pun turun kembali. Jam sudah menunjukkan pukul 15.34 wib, rasa laparpun mulai terasa karena kami tidak membawa makan siang, untunlah ada beberapa makanan ringan untuk pengganjal perut yang kosong. 

Setelah shalat ashar di tempat bapak ketua Dinas Perhubungan Indonesia, kamipun beranjak pulang. Ternyata waktu tempuh pulang lebih sinkat dibandingkan waktu pergi hanya sekitar 50 menit. Ini dikarenakan jalan yang ditempuh, lebih banyak turunan yang memudahkan perjalanan kita.

    Keesokan harinya, tibalah saat kami harus meninggalkan Pulo ini. Berat rasanya meninggalkan surga yang tersembunyi ini. Kami menaiki kapal di Renon, kampung tetangga dari kampung tempat kami buat kegiatan. 

Untuk menuju ke daerah itu, kami harus menaiki truk selama 30 menit, dengan medan yang berbukit-bukit. Keadaan jalannya mirip dengan jalan di kampung ku, Aceh Selatan.
    
Setelah sampai ke Renon, pantai yang ada di situ juga tidak kalah indahnya, bahkan ombaknya sedikit lebih tenang. Kita bisa menyaksikan ikan yang bewarna warni berenang di sekitar terumbu karang. 

Rasanya aku ingin melompat ke laut  dan berenang dengan ikan-ikan itu. Tapi sayangnya kami tidak mempunyai waktu yang banyak, karena kapal yang membawa kami kembai ke Banda Aceh sudah menunggu.

     Aku membuat permohohonan saat di dermaga, pada tahun 2023 mendatang, aku akan kembali kemari dan membangun sebuah villa di tepi pantai untuk keluargaku tercinta. 

Amin ya Allah swt. Semoga impian itu terujud.


Nikmat Tuhan Manakah yang Kau Dustakan?
SHARE

About Yelli Sustarina

Blogger Aceh - Suka Traveling - PeramuKata di perawattraveler - Aktif di Komunitas I Love Songket Aceh dan Griya Schizofren Aceh - biru warna favoritnya - "membaca untuk tahu, menulis abadikan bacaanmu".

    Blogger Comment
    Facebook Comment

13 komentar:

  1. Pemerintah Aceh harus datang kesini. Ibarat seorang anak yang disayang dan diperhatikan pasti ingat sama orang tuanya, gitu pun dengan anak pulo Aceh ini..
    nice postingannya yelli...
    amin utk impiannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah berkunjung..,! Semoga Ibu Bapak mereka yang sedang duduk jadi wakil rakyat mendengar mereka.

      Hapus
  2. Asiiik, voluntiran sambil travelling.
    Miris juga ya kondisi di sana.
    Dan sebelumnya saya kira cuma orang Gayo yg bilang "orang Aceh" buat orang2 di luar Gayo.
    Nice post.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya.., begitulah.,! Memang asyik jadi volunter, dapat bonus traveling.., :)

      Hapus
  3. Wah keren sekali kak yeli...
    Inspiratif bnget...
    Jadi rindu pulo aceh dan teme2 tuta aceh nih..
    Baca tulisanya seperti mengulangi treveling dan berbagi kita beberapa minggu yg lalu...
    Di tunggu deh karya-karyanya ...hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih,, semoga kita bisa mengulangnya dilain waktu!

      Hapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  5. Keren Tulisan Yelli, meskipun sya tidak bisa ikut serta dlm acara travelling dn berbagi II, Ulasan yg sangat luar biasa, tulisan ini bisa terobati rasa rinduku ke Pulo Aceh..πŸ˜€πŸ˜‰... Salut buat tulisan Yelli.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih.., semoga lain kali bisa berkunjung!

      Hapus
  6. kok mimpi kita sama ya?? :D
    sama sama pengen buat villa :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga kita jadi tetangga nanti ya..,! hahaha

      Hapus
  7. Banyak pulau-pulau ya di Aceh Mbak?
    viewnya keren banget Mbak, sukak.
    itu mercusuar tetep kokoh ya pasca tsunami.
    Anak-anak itu mengingatkanku pada film Surat Hafalan Delisa Mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banyak banget mbak, kalau kita berdiri di atas mercusuarnya, kita dapat lihat pulau-pulau kecil disekitarnya! Alhamdulillah mercusuarnya tetap berdiri kokoh, dan menjadi saksi bisu atas kedahsyatan tsunami. Begitulah ank2 disini mbak, tidak jauh beda seperti yang dikisahkan dalam film Delisa,

      Hapus

setiap komentar anda_ kebahagiaan bagi saya_ silahkan tulis komentar anda dibawah ini !