Bermimpi Naik Pesawat Terbang

Saat transit di Bandara Soekarno Hatta Jakarta

Jutaan orang di dunia ini sudah merasakan bagaimana sensasi menaiki pesawat terbang, bahkan sudah menjadi hal yang biasa. Lantas bagaimana dengan aku yang ndoso alias anak kampung ini? 

Menaiki pesawat tentunya menjadi sesuatu hal yang luar biasa, karena selain harga tiketnya yang tergolong mahal, juga tidak ada keperluan khusus untuk menggunakan jenis transportasi ini. Mending beli beras atau keperluan di dapur, begitulah presepsi orang-orang kampung.

Dulunya ketika pesawat melewati daerah tempat tinggalku, teman-temanku dan aku keluar rumah berlarian menuju halaman, termasuk saat sedang proses belajar mengajar di sekolah. Kami meninggalkan guru yang sedang mengajar di depan kelas, untuk melihat pesawat. 

“Da..da.., pesawat, da..,da., pesawat”, 

kamipun melompat-lompat kegirangan seolah orang-orang yang ada di dalam pesawat melihat dan mendengar teriakan kami. 

Mungkin kalau dilihat oleh anak-anak zaman sekarang, pasti dibilangin “Dasar.., Norak loe”.

Ya.., begitulah di zaman ku dulu, yaitu di masa anak-anak hidup dengan penuh keceriaan bermain di luar rumah, bukan dengan gedget atau komputer. Pasti teman-teman yang berada pada masa itu, merasakan apa yang aku alami bukan?! Hayo..ngaku, kalau nggak, berarti masa kecilnya kurang bahagia, hahaha. 

Saat aku mendengar dengungan pesawat ataupun melihat pesawat dengan ketinggian rendah, hatiku berkata:

 “Ya Allah, kapan ya.., aku bisa menaiki itu?”

 tapi cukup di dalam hati saja, karena takut ketahuan teman, nanti dibilang katrok lagi, lebay deh.

Keinginan ku menaiki pesawat tersebut sudah menjadi mimpi sejak kecil, mungkin sama dengan mimpi anak-anak kampung lainnya. Anak kota mungkin sudah menjadi hal biasa menaiki pesawat, toh, mereka berlibur dengan papa mamanya atau bahasa nge-trendnya sekarang, nyokap-bokapnya keluar kota, atau propinsi bahkan ke luar nergri. 

Lah., kalau anak kampung mah, liburan paling ke gunung, sungai ataupun laut yang ada disekitar tempat tinggal mereka, tidak perlu menggunakan alat transportasi, berjalan  kaki pun bisa, karena memang daerahku yaitu Aceh Selatan memang banyak objek wisata alam dan bahari yang bisa terjangkau cukup dengan berjalan kaki saja.

Tapi, sebenarnya bukan naik pesawatnya, tapi bagaimana proses mengujudkan impian tersebut. Aku yakin, pasti banyak yang bermimpi bisa menaiki pesawat, namun tidak semuanya yang berani untuk mengujudkan mimpi itu. 

Impian ku naik pesawat baru ku tuliskan lima bulan lalu di sebuah kertas besar yang bertuliskan “DREAM PLAN”. Di kertas tersebut tertulis berbagai mimpiku, salah satunya pada bulan September, Naik Pesawat, Semarang. 

Aku tidak punya alasan saat menuliskan di kertas yang berukuran 1 x ½ m itu, kenapa aku harus naik pesawat dan apa tujuanku ke Samarang. Impian itu ku tulis setelah mengikuti kegitan The Dream Maker Camp 2015 pada bulan April 2015 lalu.

Kertas Dream Plan ku
Kertas Dream Plan ku itu, aku tempelkan persis di samping tempat tidurku. Setiap bangun tidur, hingga kembali tidur, mimpi-mimpi itu selalu terlihat dan terbaca olehku. 

Ternyata tanpa disadari, otak bawah sadarku mencari cara mengujudkan satu-persatu dari mimpi-mimpi itu. Hingga akhirnya pada bulan September 2015, impianku terujud menaiki pesawat terbang tepatnya pada tanggal 17 September, bertepatan dengan HUT Palang Merah Indonesia yang ke 70. 

Kota tujuanku juga sesuai dengan Dream Plan, yaitu Semarang. Di Kota Jendral Ahmad Yani. 

Aku mengikuti Konferensi Nasional terkait Kearifan Lokal.

Pada hari keberangkatanku, pagi itu hujan sangat lebat tiada henti-hentinya. Aku lihat keadaan awan yang begitu gelap dengan angin yang berhembus kencang menggoyangkan daun-daun pohon di depan rumah kos ku. 

Jam 08.00 wib aku sudah siap dengan sebuah kopor dan tas sandang yang berisi pakaian dan beberapa karya tulis ku. Aku dijadwalkan berangkat pada jam 10.00 wib dan chek in pada jam 08.30 wib.

Sudah jam 08.20 wib, teman yang akan mengantarkanku ke bandara juga belum tiba. Mungkin karena hujan yang membuatnya telat datang menjemputku.

 “Ya Allah, aku tahu hujan ini pertanda berkah, tapi mohon izinkan aku untuk menggapai mimpi ku”.

Akhirnya datang juga teman-temanku itu, wajahku mulai sedikit cerah, meskipun alam masih terlihat gelap dan hujan juga belum reda. Kami memutuskan untuk segera berangkat, karena takut nantinya ketinggalan pesawat, saat itu jam menunjukkan pukul 09.05 wib.

Aku pergi di tengah hujan lebat itu, meninggalkan rumah kos. Dengan berbekalan mantel yang sudah robek pada bagian kakinya aku terus melaju dengan sepeda motor yang dibonceng oleh temanku. 

Lantas, bagaimana dengan koporku? Kami terpaksa meminta kantong plastik di sebuah kedai, untuk melapisi koporku itu. Diperjalanan, hujan semakin lebat, sehingga temanku harus berhati-hati mengendarai sepeda motor, karena jalannya sedikit licin. 

Meskipun sudah memakai mantel, tetap saja aku basah kuyup, tapi ya., mau gimana lagi, berhentipun untuk menunggu hujannya reda, nggak mungkin karena aku harus chek in dulu.

Teman-teman yang mengantarkanku ke Bandara
Setiba di bandara, jam menunjukkan pukul 09.40 wib. Aku yang baru pertama kali naik pesawat, tidak tau bagaimana cara chek in. 

Untungnya ada temanku yang sudah pernah sebelumnya melakukan perjalanan dengan menggunakan pesawat, jadi beliau yang menunjukkan arah loket untuk pengambilan tiket. 

Dengan baju basah kuyup dan sedikit terlihat gemataran karena kedinginan, aku mengambil tiket, tentunya dengan memperlihatkan barcode penumpang terlebih dahulu. Karena baru pertama kali, ya,, aku minta teman-temanku untuk selfie dulu. 

Setelah beberapa kali jepret-jepret pakai Android, eh.., ternyata ada satu lagi temanku yang ingin mengantar kepergianku. Jadi, ya.., kami terpaksa keluar lagi dari bandara menemui temanku itu.

Teman-temanku hanya bisa mengantarku di depan ruang tunggu, 

“Sampai disini dululah teman-teman, doakan aku supaya bisa pergi dengan selamat”, 

Aku menuju ke ruang tunggu, disana terdapat beberapa penumpang lain yang sedang menunggu keberangkatan. Aku melihat berbagai wajah disitu, mulai dari orang-orang bule yang pakaiannya agak sedikit terbuka, laki-laki berjenggot panjang yang memakai jubah, sampai warga lokal yang menggunakan gaya ala model papan atas. Mereka semua berada di satu ruangan besar yang berukuran sekitar 15x20 m.

Suasana di ruang tunggu bandara SIM Banda Aceh
Aku teringat pesan dosenku sehari sebelum keberangkatan.


Jangan terlihat seperti orang kebingungan, berlakulah seperti biasa, anggap kamu sudah pernah melakukan perjalanan dengan pesawat”.

 Jadi, ya.., aku menyembunyikan rasa kebingunganku, walaupun sebenarnya hati ini berkata-kata, dan terheran-heran melihat berbagai jenis orang yang berlalu lalang di depanku. 

Aku memutuskan duduk di samping kakak yang menggunakan long dress hitam, dengan alis tebal yang di tambah cilak, bibir merah merona, dan sebentar-bentar mengeluarkan cermin dari tas nya yang aku lihat mempunyai merek terkenal. 

Hampir 15 menit aku duduk tanpa berani menyapanya dan berkata sepatah katapun. Tiba-tiba ada pengumuman, bahwa keberangkatan kami ditunda beberapa saat, lantaran cuaca sedang buruk. 

Waduh,, aku harus menunggu lagi, dalam hati kecilku, 

“Kapan ya., aku merasakan sensasi naik pesawat itu?

Aku mulai merasa bosan duduk di samping kakak itu. Kemudian terdengar olehku seorang Ibu paruh baya yang berbicara di telpon menggunakan bahasa minang, beliau pasti berasal dari Tapaktuan kalau tidak dari Padang pikirku. 

Lalu aku sampiri beliau dan mulai bercakap dengan bahasa Minang, eh ternyata benar, beliau berasal dari Tapaktuan yang hendak menuju Jakarta. Akhirnya, ada juga temanku yang bisa diajak untuk berbicara.

 Disamping Ibu itu, juga ada seorang Ibu paruh baya yang mengerti bahasa kami, lantas beliau ikut nibrung di pembicaraan kami. Ibu tersebut berasal dari Padang yang hendak pulang kembali ke Padang.

Kami pun sempat terheran, no penerbangannya sama, tapi kok tujuannya beda-beda ya? 

Aku ke Semarang, kedua Ibu itu hendak ke Jakarta dan Padang. 

Di tiketku memang benar sih, aku harus transit dulu dua jam di Jakarta, namun tidak di Kuala Namu Medan. Kami mengeluarkan tiket masing-masing, apakah ada kesalahan jadwal, tapi no pesawat penerbangan kami sama. 

Ya sudahlah, biarlah pilot yang menentukan arah pesawatnya, kemanapun di bawa yang penting sampai ke tujuan masing-masing.

Tiba saatnya aku memasuki kabin pesawat, moment ini yang aku tunggu-tunggu dari tadi. Tak lupa juga aku memfoto dan merekam saat-saat memasuki kabin pesawat. 

Di tiket tertulis no tempat dudukku 16 C. Aku pun mulai menghitung kursi, setiap baris tersebut ada tiga deret kursi, kiri dan kanan. Berarti tempat dudukku ada di deret ke tiga, saat aku mau duduk, ternyata sudah ada orang yang duduk di kursi itu. 

Loe.., kok ada orang? Aku bertanya kepada pramugari yang bersanggul tinggi dengan rambutnya yang disersak, menggunakan cilak tebal dan bulu mata palsu. Mereka memang cantik-cantik, seperti bintang film terkenal.

Ternyata, no kursi dilihat sesuai dengan no bagasi atas, jadi aku duduk di deret 16, bukan 3, dalam hatiku:

 “waduh.., begoknya aku, untung nggak ada yang tahu, hehehe”. 

Kemudian aku duduk di kursi ke tiga, sedikit kecewa sih, karena duduknya bukan di samping jendela, tapi lebih ke tengah, jadi aku tidak bisa melihat pesawat saat lepas landas. Tapi, nggak apa-apa sih, yang penting naik pesawat.

Setelah semua penumpang masuk dan para petugas menghitung jumlah penumpang, kemudian pramugari yang cantik-cantik itu memperagakan cara penggunaan sabuk pengaman dan beberapa peraturan lainnya. 

Lewat sebuah type recorder seorang perempuan menjelaskan peraturan di pesawat, sedangkan pramugarinya memperagakan menggunakan bahasa tubuh seperti orang bisu. Saat pramugari itu memperagakannya, aku terpana dan sedikit geli melihatanya. 

Mereka seperti boneka Barbie yang sedang menari, mulai dari peragaan pemakaian sabuk pengaman, penggunaan pintu keluar jika tiba-tiba pesawat bermasalah, sampai menggunakan baju pelampung.

Mereka semua tidak menggunakan jilbab, tapi menggunakan model rambut bersanggul yang di gulung dan menggunakan aksesories yang serba sama. Mereka menggunakan baju batik pendek dan rok panjang, namun pada bagian depan roknya belah hingga ke paha. 

Agak sedikit seksi sih, apalagi saat mereka mengangkat tangan ke atas untuk merapikan barang-barang penumpang dan  menutup bagasi atas, pastinya jika ada laki-laki yang memandang sedikit tergoda imanya dengan penampilan mereka atau memilih untuk menunduk bagi laki-laki yang kuat imannya.

Saatnya pesawat lepas landas, bunyinya cukup kencang. Awalnya pesawat berjalan dengan perlahan, lalu semakin kencang, aku tidak tahu berapa km kecepatannya / jam. Seperti naik L300 saja, kataku dalam hati. 

Kemudian pesawatpun mulai terbang, inilah sensasi naik pesawat, akhirnya aku merasakannya juga,

 “Mak.., aku benaran naik pesawat” dalam hatiku berteriak-teriak kegirangan, 

sama halnya pada masa kecil dulu aku mendadakan pesawat saat melintasi daerah ku. Pernah dulu aku bermimpi naik pesawat, dalam mimpiku pesawatnya bukan terbang, eh,, malah berjalan kayak L300, itu mungkin karena aku keseringan naik L300 kali hehehe.

Saat pesawat melayang, aku melihat begitu indahnya gunung-gunung yang menjulang tinggi di Aceh, itukah gunung selawah? kataku dalam hati, aku sedikit mendongakkan kepalaku, karena posisi dudukku berada di tengah, jadi aku tidak bisa melihat dengan leluasa. 

Jam 14.30 wib, aku tiba ke Kuala Namu Medan, ternyata penumpng transit, juga diharuskan turun. Akupun turun, sedikit was-was juga, takut ketinggalan pesawat jika aku jauh dari rombongan, jadi aku menunggu Ibu yang ku temui saat di Bandara Sultan Iskandar Muda tadi. 

Ternyata, kami hanya sebentar singgah di bandara tersebut, meskipun singkat saya juga sempat mengambil foto yang bertuliskan Bandara Kuala Namu Medan, sebagai pertanda saya pernah kemari.

Jam menunjukkan pukul 14.45, perutku terasa lapar, karena sejak pagi hanya sepiring nasi yang ku makan, itupun tidak habis. 

Semua penumpang transit, membuka bekalnya, termasuk Ibu yang ku temui itu. Kemudian beliau mengatakan: 
"nanti kalau melakukan perjalanan, bawa bekal dek, karena perjalanan kita jauh".

 namun beliau juga tidak memberikan sedikit bekalnya, ya, saya mengerti juga karena bekalnya memang sedikit. Jadi kelaparan deh saya selama di pesawat. 

Di atas pesawat, aku merasakan lapar sekali, perutku berbunyi-bunyi, mungkin cacingnya demo karena tidak ada makanan. 

Akhirnya aku memutuskan untuk membeli makanan yang ditawarkan mba-mba pramugari. Alangkah terkejutnya, harga dua oreo yang biasanya di kedai seharga Rp2.000, tapi di pesawat, harganya Rp15.000.

Wow., drastisnya selisih harga!

 Karena perutku tidak bisa diajak kompromi lagi, terpaksalah aku membelinya, terus uang seratus ribu yang saya beri tidak ada pecahan kembalinya, jadi mereka menyuruhku untuk mengambil dua buah, jadi, aku harus mengeluarkan uang sebeser Rp30.000 untuk roti seharga, Rp.4.000 di kedai. 

Waduh.., tekor adek bang! 

NOTE: Untuk teman-teman yang menggunakan pesawat, hendaklah membawa bekal, karena harga di bandara dan di pesawat jauh lebih mahal.

Bandara Soerkarno Hatta Jakarta
Jam 16.15 wib, saya tiba di Bandara Sukarno Hatta Jakarta. 

Subhanallah besarnya bandaranya, meskipun desainnya sedikit tua, tapi besarnya hampir sama dengan kecamatan di daerahku. 

Turun dari pesawat kami diantar naik bus pergi ke terminal berikutnya. Aku mengikuti Ibu yang memiliki tujuan Jakarta tersebut, ternyata penumpang yang tinggal di Jakarta harus mengambil barangnya di tempat bagasi, sedangkan penumpang transit tidak perlu. Jadi aku ikut Ibu itu untuk mengambil barang ku. 


Di tengah perjalanan, Ibu itu mengatakan:

 "kamu harus tanya dulu ke petugas, kamu kan cuman transit disini".

Lalu aku pergi ke loket transit yang sudah sepi dari penumpang. 

Saat aku memperlihatkan tiketku, petugas bandara itu terkejut:

“ Lho,, mba, pesawatnya ini mau berangkat, kok mba masih disini?” 

Aku pun shok setengah mati, karena jam menunjukkan pukul 16,30 wib, sedangkan di tiket jadwal keberangkatan pukul 16.20 wib. 

Petugas itu segera menghubungi temannya dengan menggunakan HT, saya dan petugas itu berlari-larian keluar terminal. Kemudian kami harus menunggu bus jemputan. Setelah bus sampai sayapun naik tanpa ditemani para petugas tersebut. 

Dalam hatiku, dag, dig., dug, takut ketinggalan pesawat. Kemudian saya diturunkan di sebuah terminal, yang aku tidak tahu terminal berapa itu.

Akupun panik, lalu bertanya ke seorang petugas bandara dan memperlihatkan tiketku, alangkah terkejutnya dia saat melihat jadwal keberangkatan itu

 “Waduh mba’., koq mba bisa lepas dari rombongan? ini, pesawatnya mah mau berangkat”. 

Dia pun tidak kalah paniknya dibandingkan aku, dia segera menghubungi petugas lain menggunakan HT, dan mencari mobil tumpangan. Aku hanya berkata 

“Pak, pesawatnya tadi lama delay di Banda Aceh, jadi saya terlambat kemari” 

Air mataku hampir saja jatuh, untunglah ada sebuah mobil angkut barang yang sedang melintas. Petugas tersebut cepat-cepat menahan mobil itu dan kami segera masuk ke mobil.

Aku terus berdoa di sepamnjang perjalanan, tidak bisa aku bayangkan seandainya aku ketinggalan pesawat dan terlantar di Jakarata. Akhirnya tibalah di depan pesawat, tapi mobil yang aku tumpangi tidak boleh terlalu dekat, jadi jaraknya sekitar 50 m. 

Sambil mengucapkan terimakasih kepada Pak sopir, aku dan petugas bandara berlari-larian seperti di kejar anjing. Dari kejauhan aku melihat tidak ada satu orangpun lagi penumpang yang berada di bawah pesawat, berarti aku penumpang yang terakhir memasuki pesawat. 

Sambil ngos-ngosan aku memperlihatkan tiketku ke petugas dan beliau mengizinkan ku masuk. Baru saja aku duduk di kursi, petugas itu datang lagi kepadaku untuk memastikan bahwa penumpang yang mereka tunggu benar atas namaku. 

Kakak cantik itu sedikit tersenyum kepadaku, mungkin karena lucu melihat diriku yang napasnya terpenggal-penggal karena capek larian-larian mengejar pesawat. Kemudian pintu pesawat segera ditutup,

 “Terimakasih Tuhan, Engkau masih mengizinkanku menaiki pesawat ini”
.
Pukul 18.05 wib, aku tiba di Semarang. Alhamdulillah akhirnya tiba ke kota tujuan. Handphone ku mulai ku aktifkan kembali. Baru saja diaktifkan, sudah masuk panggilan dari Mr. EW, yang menjemputku di bandara.

Beliau adalah teman dosenku yang juga berasal dari daerah yang sama denganku. Katanya dia dalam perjalanan menuju bandara, dan aku disuruh menunggu sebentar. Akupun menuju tempat pengambilan barang. 

Lama aku menunggu barangku keluar dari meja yang berputar mengantarkan barang-barang penumpang tersebut, namun barangku juga tidak kunjung datang. Aku melihat disekelilingku sudah mulai sepi, tidak ada satu orangpun penumpang lagi. Hanya tinggal aku dan para petugas bandara. 

Kemudian aku pergi menanyakan ke petugas tersebut, kemana barangku itu. Setelah di cek, ternyata barangku beda pesawat dengan pesawat yang aku tumpangi. Jadi aku disuruh menunggu satu jam lagi.

 Wduh., tak hilang-hilang apesnya aku.

Mr. EW pun tiba, aku belum pernah sebelumnya bertemu dengan beliau, tapi dia sangat baik denganku. Dia mengajakku makan malam terlebih dahulu sambil menunggu kedatangan koporku itu. Dia juga mengenalkanku dengan seorang bawahannya. 

Ternyata Mr. EW adalah seorang Regional Manager PT Finansia Multi Finance yang sedang bertugas di Kota Semarang. Setelah koporku tiba, kamipun pergi meninggalakan bandara menuju penginapan. Karena aku datang sehari sebelum kegiatan, jadi dari pihak panitia tidak menanggung akomodasi tersebut. 

Untunglah Mr. EW baik hati dan menyewakanku sebuah hotel yang terbilang mewahlah di Kota Lumpia ini. Tentunya berbeda kamar dong dengan beliau. 

Sungguh luar biasa baiknya orang ini, mau-maunya membiayai penginapanku meskipun dia tidak tahu jelas latar belakangku. 


“Abang dulunya datang kemari hanya bermodal nekat, dan bersusah payah untuk mencari kos selama masa kuliah, jadi abang tidak mau adik-adik abang mengalami nasib yang sama seperti abang” 

begitulah ucapanya saat aku bertanya, kenapa mau melakukan ini semua. Sungguh luar biasa kuasa dan rencana Allah mempertemukan aku dengan Mr. EW.

Kamar hotel ku no 110, Summi Hotel
Setiba di kamar hotel, aku melihat betapa mewahnya interiornya. Mr. EW sedikit menjelaskan kepadaku cara penggunaan kartu kamar. 

Kartu tersebut berfungsi sebagai kunci dan juga kode untuk menghidupkan barang-barang elektronik di kamar tersebut, saat kartu dicabut, secara otomatis listrik akan mati. 

Ini sebenarnya untuk menghemat energi juga, karena kebanyakan penyewa kamar hotel lupa mematikan listrik sebelum keluar dari kamar, cara seperti ini tergolong ramah lingkungan menurutku. 

Kemudian aku membuka kaus kakiku, yang dari tadi pagi basah terkena air hujan, ternyata kakiku sudah keriput karena selama 12 jam barada dalam keadaan basah. 

Baju di badanku sudah kering, tapi sayangnya baju di koporku basah terkena hujan saat aku tadi pagi pergi ke bandara. Akhirnya aku jemurlah baju-bajuku itu di bawah Ac. Kamar hotel tersebut penuh dengan baju-bajuku yang basah, untunglah tidak ada petugas hotel yang datang, kalau nggak aku bisa di keluarkan malam itu juga.

Tahu Gimbal, makanan khas Kota Semarang
 Besoknya sebelum acara, aku pergi jalan-jalan meneglilingi pusat Kota Semarang dan diteraktir makan Tahu Gimbal oleh Mr.Ew. 

Trimakasih Mr.EW yang sudah baik menyambut dan memperlakukanku seperti adiknya sendiri. 

Andaikan ¼ penduduk bumi ini seperti Mr.EW, pasti tidak akan ada yang kesusahan di negri ini. 

Semoga saja aku bisa mendapatkan suami seperti Mr. EW yang baik hati.

Selama tiga hari aku berada di Semarang mengikuti berbagai kegiatan event tersebut, dan menemukan banyak teman-teman dari berbagai daerah di Indonesia. 

Ketika aku mau kembali pulang ke Aceh, ada sedikit hal lucu lagi ku temukan di bandara. Aku lebih duluan tiba di bandara Ahmad Yani, dibandingkan 4 temanku lainnya yang berasal dari Aceh juga. 

Pukul 11.00 wib, aku sudah ada di bandara, sedangkan keberangktanku pukul 13.05 wib. Saat aku pertama masuk untuk pengambilan tiket, kopor ku langsung diambil oleh petugas bandara, aku kira dia mau membawanya ke bagasi, 

tapi eh., tiba-tiba, koporku malah dibalut dengan plastik kayak pocong. Lantas mereka meminta uang Rp65.000. 

Benar-benar deh ini pemerasan, padahal aku lihat harganya Rp50.000. Tapi aku malas berdebat dengan pihak bandara, ya,. terpaksa aku ikhlaskan uang itu untuk mereka.

NOTE: Perlu diingat teman-teman, jika ada di bandara orang-orang yang mau membalut kopor kamu, jangan mau, karena harganya itu loe., mahal kali. Apalagi kalau mereka lihat orang-orang baru yang agak sedikit bego, maka jadilah kita korban pemerasan. 

Menurutku kalau pun tidak dibalut juga tidak apa-apa, karena banyak yang ku lihat penumpang lain tidak mau membalut kopornya. Tapi, kalau punya uang banyak, dan isi kopornya berharga, sebaiknya dibalut. Itu semua, terserah Anda.

Jadi, aku harus menunggu lama, bosan juga sih, jadi aku putuskan untuk berjalan-jalan di sekitar bandara. Aku melihat ada beberapa suvenir di bandara, bermkasud untuk membelinya sebagai ole-ole, tapi saat aku menanyakan harganya, 1 kg keripik Rp60.000, 

wow., mahal bingit, akhirnya aku tidak jadi membelinya. 

Aku mendengar suara azan, padahal jam menunjukkan pukul 11.30 wib. Koq cepat ya., shalat zuhurnya? 

o.., aalah, aku sedang berada di Pulau Jawa yang waktunya lebih cepat dibandingkan di Pulau Sumatra. Kemudian aku mencari mushala dan shalat zuhur.

Setelah shalat, terdengar suara perutku, pertanda lambungku minta diisi. Akhirnya aku putuskan untuk makan di sebuah resto. Aku bertanya menu yang tersedia dan mba tersebut meyebut salah satunya ada soto. 

Aku memesan soto dan es teh manis tanpa melihat harganya terlebih dahulu. Satelah selesai makan, saat aku meminta bill nya, begitu terkejutnya aku harga makanan yang biasanya hanya Rp15.000 untuk satu porsi nasi soto dan es teh manis, harus aku bayar dengan harga Rp49.000. 

Waduh.., tekor adek bang, payah nie, kalau hidup di bandara.

Teman-teman dalam perjalanan pulangku
Akhirnya aku bertemu dengan keempat teman-temanku asal Aceh, setelah menungu sekitar satu jam setengah, akhirnya kamipun berangkat meninggalkan Semarang. 

Sebelum kebarangkatanku aku berdoa, semoga aku bisa menginjakkan kaki lagi ke kota ini Amin. 

Jam 15.00 wib, kami tiba di Jakarta. Tidak seperti perjalanan pergiku yang waktunya sangat singkat, kali ini kami mempunyai waktu selama 2 jam untuk teransit, ditambah 1 jam lagi karena pesawatnya delay. 

Kami sempat kebingungan juga mencari terminal 3, karena terminalnya gede banget., jadi kami susah untuk menemukanya. 

Tapi sebelumnya kami sempat jalan-jalan disekitar terminal. walaupun sebenarnya itu adalah kesasar karena tidak tahu arah, jadi kami anggap saja itu sebagai jalan-jalan.


Teman-temanku mulai lapar, kami mencari resto terdekat. Tapi eh., aku dan teman-temanku dapat promo donat beli 6 gratis 6, jadi karena mengharapkan gratis, kami pun mencari toko tersebut. Akirnya dapat deh, saat kami tanya harga satu donat, 

tereng.. Rp11.000 yang biasanya di pinggiran kampusku di Aceh seharga Rp2.500 / buah, akhirnya kami tidak jadi membelinya. 

Untuk mengisi perut kami yang lapar, kami pun makan di sebuah resto, aku memilih menu telor bulat di tambah sayur, biasanya makanan seperti itu hanya Rp5.000, tapi saya harus membayar seharga Rp35.000/porsi. 

Cukup mahal memang, ternyata barang-barang di bandara tergolong mahal karena mereka harus membayar pajak lagi. Jadi teman-teman harus bawa bekal sendiri supaya hemat.

Jam 20.30 wib, kami tiba di Bandara Kuala Namu Medan, haripun sudah gelap. Biasaya kalau transit disini, tidak begitu lama. Tapi entah kenapa, kami berkeinginan untuk ke tolilet dulu setelah lewat dari petugas pemeriksaan. 

Akibatnya kami harus memutar dulu melewati beberapa pintu terminal dan melakukan proses pemeriksaan ulang. Jadi lari-lari lagi deh seperti kejadian di Jakarta, kali ini aku tidak sendiri tapi ada dua orang temanku lainya. Kami seperti atlit meraton yang ingin cepat-cepat sampai ke garis finish.

Jam 22.40 wib akhirnya aku tiba kembali ke Bandara Sultan Iskandar Muda Banda Aceh, tak disangka mimpiku sudah terujud. 

Meskipun melewati beberapa rintangan, namun aku lalui dengan penuh keikhlasan dan keberanian. 


It is the first time I go to by plane.

Pengalaman ini perlu aku bagikan ke teman-teman, supaya berani mengambil tindakan untuk menggapai mimpinya. 


“Sebenarnya bukan mimpimu yang terlalu besar, tapi mentalmu yang terlalu kecil, maka dari itu berusahalah memperbesar mental supaya kamu bisa menggapai mimpi-mimpimu” (Yell Saints)

Temanku yang dari Surabaya, Aku memangilnya Cak Farid

Teman-temanku di Room Kearifan Lokal dari seluruh daerah INDONESIA
SHARE

About Yelli Sustarina

Blogger Aceh - Suka Traveling - PeramuKata di perawattraveler - Aktif di Komunitas I Love Songket Aceh dan Griya Schizofren Aceh - biru warna favoritnya - "membaca untuk tahu, menulis abadikan bacaanmu".

    Blogger Comment
    Facebook Comment

6 komentar:

  1. Mimpi yang kemudian dimudahkan berkat menulis ya Yelli :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, benar banget tu bg Ubay, kayak abang kan bisa kmana2 berkat menulis.

      Hapus
  2. Mimpi yang kemudian dimudahkan berkat menulis ya Yelli :)

    BalasHapus
  3. Hi Yelli.. Aku baca tulisan km ini benar2 merasakan perjuangan km. So proud!! Memang benar, km nggak boleh nyerah utk menggapai mimpi kamu. Semua Allah yg menentukan, tinggal kita berprasangka baik kpd Nya.. Semogaaa km bisa naik pesawat lagi, ke seluruh Indonesia, bahkan ke luar negeri!!

    BalasHapus
  4. sekonyol apapun kedengerannya, mimpi itu penting karena untuk mewujudkannya butuh proses, dan proses itu tanda kalo kita hidup punya tujuan. aku pas masih kecil juga sama kaya mbak, mimpi keliling dunia padahal naik pesawat aja ga pernah. alhamdulillah seiring berjalannya waktu, sama kaya mbak kesampean juga! :D

    BalasHapus
  5. Aku juga gt mbak, sejak kecil bermimpi naik pesawat. Alhamdulillah jg kewujud lewat menulis.

    BalasHapus

setiap komentar anda_ kebahagiaan bagi saya_ silahkan tulis komentar anda dibawah ini !